Puasa Dan Bonus Sehat

dr. Zaenal Abidin, SH., MH (foto google.com)

Oleh: Zaenal Abidin

 Ajaran puasa telah dijalankan oleh umat-umat terdahulu. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183). Umat Nabi Muhammad, Saw., diperintahkan oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang untuk menjalankan puasa Ramdhan sebulan penuh sebagaimana diwajibkan atas umat sebelumnya agar mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, yakni takwa. Bahkan masyarakat pada zaman kuno, telah mengenal adanya terapi melalui puasa.

 Puasa atau shaum merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua ibadah yang kita lakukan mempunyai nilai moral tertentu, termasuk ibadah puasa. Rasulullah Saw., menilai suatu ibadah dari seberapa jauh kita melaksanakan pesan moral yang terkandung di dalam ibadah tersebut.

Di antara pesan moral puasa yakni: a) tumbuhnya rasa syukur atas nikmat Allah, b) lahirnya kepekaan sosial untuk memperhatikan orang-orang yang lapar, c) menaklukkan hawa nafsu agar tidak serakah menjadikan perut sebagai kuburan bagi orang lain, d) tumbuhnya jiwa kasih sayang dan tanggung jawab kepada orang yang menderita di sekitar kita.

Untuk mencapai derajat takwa, selain syarat iman sebagaimana QS. Al-Baqarah ayat 183 di atas, puasa juga memerlukan sikap ikhlas. Karena itu, puasa disering disebut sebagai sarana untuk melatih keikhlasan. Ikhlas berarti melakukan suatu amal ibadah semata-mata mengharapkan ridha Allah. Ketika amalan atau ibadah lain dapat tercemar penyakit riya, maka ibadah puasa tidak mungkin terkena, sebab percuma pamer berpuasa. Tidak ada yang mengetahui jika Anda puasa kecuali Anda sendiri, dan tentu Allah yang paling mengetahuinya. Karena itu, kita sering mendengar para alim ulama berkata, “Allah sandarkan puasa itu kepada diri-Nya.”

 Memang, kadang ada orang tidak berpuasa namun berpenampilan fisik seolah-olah berpuasa.  Tampak lemas, lesu, bibir kering, dan seterusnya, namun kondisi semacam ini tidak hanya dialami oleh orang yang sedang berpuasa. Dan sebetulnya, bertingkah berpura-pura supaya diakatakan berpuasa tidak ada juga gunanya. Bahkan yang diperoleh hanya dosa belaka. Dosa karena tidak menjalankan kewajiban berpuasa dan dosa karena ia berpura-pura. Bukankah berpura-pura itu adalah dusta dan dusta itu adalah dosa.

Orang yang menjalankan ibadah puasa dididik untuk yakin bahwa keridhaan Allah lebih besar daripada dunia dengan seluruh isinya. Wa ridhwanum minallahi akbar, sebagai ketenangan yang agung (QS. At-Taubah:72). Keridhaan Allah dan takwa hanya dapat diperoleh dengan keikhlasan. Karena sikap ikhlas maka orang yang berpuasa tidak akan mengharap pujian orang lain. Mereka tidak mendambakan kekayaan dan kedudukan dari manusia.

Selain ikhlas, orang yang beribadah puasa juga dididik membersihkan diri dari perbuatan yang tercela. Bahkan bila digunjing sekalipun, Rasulullah mengajarkan untuk menjawab sederhana. “Inni Shaim” (Aku sedang berpuasa). Derajat takwa juga tidak akan dapat dicapai tanpa membersihkan diri.

Orang yang berpuasa dilatih membiasakan diri berbuat baik kepada Allah dan juga berbuat baik kepada makhluk ciptaan Allah, terutama kepada sesama manusia. Jadi sekalipun orang yang beribadah puasa itu lapar, dahaga, dehidrasi, lemas, bibir kering, mata sayup karena bangun shalat malam, namun potensi ruhaniahnya tetap hidup, disinari cahaya rabbani.

Puasa mendidik potensi ruhaniah seseorang. Karena itu pandangan nurani orang yang berpuasa semakin cemerlang untuk selalu berbuat baik. Berbeda dengan yang orang yang tidak melatih apalagi yang sengaja mematikan potensi ruhaniahnya, pasti amat sulit menghadirkan kebaikan di dalam dirinya sendiri (apalagi orang lagi kepada orang lain). Tidak akan ada kebahagiaan, ketenteraman, keindahan, keadilan dan kesucian bagi orang yang mematikan potensi ruhaniahnya.

Dalam diskusi virtual Menyambut Ramadhan 1442 H, yang diselenggarakan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Jum’at, 26/3-2021), tampil dua orang nara sumber, yaitu Dr. dr. Khidri Alwi, M.Ag. dan dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK. Sebagai seorang dokter dan cendekiawan muslim dr. Khidri Alwi memaparkan puasa ditinjau dari aspek jiwa dan ruhaniah. Sementara dr. Tirta Prawita Sari sebagai ahli gizi memaparkan puasa dari aspek kesehatan badaniah.

Dalam penjelasannya, dr. Khidri mengutarakan tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa syariah (puasa umum, dasar). Puasa syariah ini lebih menekankan pada aspek formal dengan disiplin terhadap rukun dan syarat puasa. Selama seseorang memenuhi rukun dan syaratnya, tidak melanggar tiga larangan (makan, minum dan hubungan seks suami istri), puasanya sah secara fiqih, sekalipun dia menggunjing, marah, pelit, dan sombong. Wilayah puasa syariah adanya di shard (dada). Rasulullah Saw bersabda:

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan begitu banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malam kecuali begadang(HR. Imam Ibnu Majah)

Kedua, puasa tarikat (puasa khusus, jalan menuju hikmah). Puasa tarikat sudah memasuki wilayah hikmah yang lebih dalam. Sesuai pengertian puasa menahan seluruh anggota tubuh dan panca indra, membersihkan diri dari hal-hal yang tidak baik, menjauhi hal yang tidak berfaedah, menjaga batin dari sifat-siafat tercela yang dapat menyebabkan penyakit hati. Wilayah puasa tarikat ada di qalb (hati).

 Ketiga, puasa hakikat (puasa paling khusus, puasa puncak). Puasa hakikat merupakan puasanya para ahlul muthmainnah yang jiwanya senantiasa tenang dalam ketaatan kepada Allah. Sepanjang hari mereka menahan kerinduan kepada Allah. Pelaku puasa hakikat mengikat syaitan-syaitan yang dibelenggu dengan menghilangkan segala keinginan dan hasrat ego, yang mengalir di dalam aliran darah, berupa nafsu dan syahwat.

Puncak puasa hakikat, menahan hati yang paling dalam (lubb) dari segala hal selain Allah. Menahan rahasia batin (sirr) dari mencintai, memandang selain Allah. Hakikat puasa adalah jalan bagi seorang hambah meneladani sifat-sifat ketuhanan. Allah tidak makan, tidak beristri, tidak berbuat zalim, dan tidak tercela karena Dia adalah pemilik sifat kesempurnaan. Allah berfirman dalam hadits Qudsy: “Puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. (HR. Imam Ahmad).

Dokter Khidri yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Makassar mengatakan makanan yang dikonsumsi manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Pertama, tingkatan hajat (makanan yang dibutuhkan), beberapa suap makanan sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggung; Kedua, tingkatan khifayah (ukuran kecukupan), makanan yang mengisi sepertiga perut, sedangkan sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernapas; Ketiga, tingkatan fudhlah, makanan kelewat batas dan berlebih-lebihan.

Nah, bagaimana dengan pandangan bahwa puasa dapat memberi manfaat kesehatan badaniah? Pandangan tersebut tentu saja benar sebagaimana sabda Rasulullah Saw, Bulan puasa datang dengan membawa segala keberkahan.” (HR Thabarani). Selain itu, juga telah banyak didukung penemuan ilmiah mutakhir.

Sekalipun ibadah puasa itu dapat memberi faedah sehat, namun Al-Qur’an mengisyaratkan adanya kondisi badan yang sehat bila ingin berpuasa. Bila seseorang sedang sakit dan sakitnya bakal bertambah bila berpuasa maka ia diberi keringanan untuk tidak berpuasa, dengan ketentuan wajib menggati sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari yang lain.

Selanjutnya, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK., Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengawali paparannya dengan mengutip pendapat Filsuf Plato, “I fast for greater physical and mental efficiency.

Menurut dr. Tirta Prawita Sari yang sering disapa dr. Wita, “Puasa adalah gaya hidup yang ditetapkan sejak lama dan diyakini memberi manfaat bagi kesehatan. Bukan hanya gaya hidup, puasa telah menjadi salah satu bagian dari terapi kedokteran kuno. Puasa adalah cara detoksifikasi terbaik, murah dan mudah. Kini manusia modern telah menerapkan puasa untuk berbagai tujuan. Puasa tampil melalui berbagai jenis metode, durasi dan teknik yang berbeda, dengan satu kesamaan, yakni: zero calorie within certain of time, dengan cut off point minimal selama 12 jam.”

Apakah semua manfaat medis itu dapat diperoleh setelah Ramadahan berakhir? Puasa memang memberikan manfaat medis berupa manfaat metabolik yang baik bagi tubuh. Dan, fungsi metabolik yang baik akan mempengaruhi status kesehatan termasuk fungsi kekebalan tubuh. Namun, manfaat metabolik puasa dapat dirusak oleh pola konsumsi yang salah selama Ramadhan. Pengaturan pola kunsumsi yang memperhatikan faktor risiko terhadap inflamasi akan menjaga manfaat puasa bagi kesehatan. “Seharusnya kita mampu membelenggu syaitan-syaitan pada saat berbuka puasa, sebagaimana kita membelenggunya pada waktu berpuasa. Jangan mengundang syaitan ikut sahur dan berbuka, yang mengakibatkan rusaknya pola konsumsi karena kalap dan balas dendam.” Ungkap dr. Wita.

Lalu, bagaimana memilih menu sahur dan berbuka agar manfaat kesehatan puasa tidak rusak? Dokter ahli gizi RS. Pondok Indah Jakarta dan RS. Bunda Margonda Depok ini memberikan saran. Pada waktu sahur disarankan yang gizinya lengkap, protein dan serat yang cukup, mengandung lemak baik, dan upayakan tanpa pengolahan dengan menggoreng. Kurangi makanan tinggi garam karena dapat membuat haus. Juga kurangi minuman yang dapat membuat dehidrasi, seperti kafein. Tidak mengonsumsi menu sahur terlalu banyak, 30-40 persen dari kebutuhan energi harian sudah cukup. Konsumsi karbohidrat dari bahan karbohidrat kompleks dan sedapat mungkin hindari karbohidrat sederhana.

Saat berbuka mengutamakan konsumsi buah-buahan dan serat yang cukup. Mengonsumsi buah kurma sangat baik untuk berbuka. Bila tidak ada kurma buah-buah lain pun baik bagi tubuh. Mengonsumsi buah potong dan tiga butir kurma adalah cara terbaik dilakukan saat berbuka. Kurma dapat dicampur di dalam oatmeal dan susu almond menjadi overnight oats, atau bisa juga menambahkan kacang-kacangan agar semakin lengkap proteinnya. Semakin sederhana cara pengolahannya, semakin baik menu berbuka itu, sebab akan menghindari penambahan kalori dari bahan lainnya. Pilih metode pengolahan makanan tanpa menggorengnya. Dapat dilakukan dengan memanggang, mengukus, atau membuat sup. Ini adalah metode yang baik untuk memperoleh manfaat kesehatan dari puasa Ramadhan.

Saat puasa, dapat saja terjadi dehidrasi ringan sampai sedang, karenanya kurangi aktivitas berat secara oudoor atau terpapar panas matahari. Pastikan kebutuhan cairan dapat terpenuhi saat sahur dan berbuka puasa. Minumlah secara bertahap, sering berwudhu dan basahi wajah serta kulit agar tidak kering.

Selain pola makan sehat dan bergizi, mental juga sangat penting disiapkan saat beribadah puasa. Iman yang kuat, ikhlas dan ihsan serta pola pikir saat berpuasa sangat mempengaruhi mental, fisik, serta kesehatan lainnya. Jika niat dan pikiran kita sehat, maka menjalankan puasa juga menjadi lebih mudah dan berkah.

Sekalipun puasa dapat memberi faedah kesehatan, namun perlu difahami bahwa itu hanyalah bonus semata. Bonus yang akan semakin menambah keimanan kepada Allah serta semakin membuktikan kebenaran risalah Rasulullah Muhammad Saw. Dan terkait faedah ini, Ibadah puasa ini sangat terbuka dan menantang kepada siapa saja yang ingin mengetahui serta meneliti faedah dan kebaikannya. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, “Dan berpuasa adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.Wallahu alam bishawab.

 (Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)