Wasapada, Nyamuk DBD Belum Pensiun

Poster Webinar: Waspada Ancaman DBD Ditengah Pandemi Covid 19

Catatan ringan dari webinar:
“Waspada, Ancaman DBD Ditengah Pandemi Covid 19”
Oleh: Zaenal Abidin

Webinar kami [Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, BPP. KKSS, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Bakornas Lembaga Kesehatan (LKMI-HMI), dan www.sadargizi.com] pada Jum’at, 23 April 2021, membahas tema “Waspada, Acaman Demam Berdarah Dengue di Tengah Pandemi Covid-19. Konsep webinar tetap merupakan forum sedekah ilmu dan berbagi pengalaman dan meniru fungsi khutbah Jum’at atau ibadah pekan lain.

Nara sumber yang berbicara dalam webinar tersebut adalah Prof. dr. Hasanuddin Ishak, M.Sc., Ph.D., guru besar dan peneliti entomologi nyamuk dari Universitas Hasanuddin Makassar. Selainn itu terdapat pula lima orang penanggap yang cukup memahami seluk-beluk demam berdarah, yakni: dr. Eifel Faheri, Sp.PD-KHOM (Dosen Ilmu Penyakit Dalam, FK Universitas Andalas) dan dr. Kamaruddin Askar (Ketua IDI Bekasi Kota). Serta tiga penanggap jurnalis senior, yakni: Rr. Laeny Sulistyawati (Republika), Uyung (Redaktur Pelaksanan Detikhealth), dan Faturahman S. Kanday (Pojoksatu).

Tema di atas sengaja kami angkat mengingat di Indonesia, setiap tahun pada musim hujan terdapat banyak kasus demam berdarah dengue. Kami awali kata “waspada” dan akhiri dengan “di tengah pandemi covid-19” atas saran beberapa teman. Tentu saja maksudanya supaya kita semua orang Indonesia apapun jabatan dan status sosialnya agar tidak terpaku hanya mengurus pandemi covid-19. Dan hendak mengingatkan bahwa sebelum pandemi covid-19, orang Indonesia sudah “memiliki” virus langganan yang selalu mengancam.

Sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemis di Indonesia (Ishak, 2018). Jumlah penderita DBD berfluktuasi cenderung meningkat dan penyebaran daerah endemik semakin luas. Penyakit ini dapat mengakibatkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah endemis yang terjadi hampir setiap tahunnya pada musim penghujan.

Sejak tahun 1952 infeksi virus dengue menimbulkan manifestasi klinis berat yaitu demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan di Manila, Filipina. Kemudian menyebar ke Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan Indonesia. Tahun 1968 penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan Jakarta sebanyak 58 kasus, dengan kematian yang sangat tinggi, 24 orang (case fatality rate 41,3%). Pada tahun 1993 DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI, sebagaimana diberitakan kompas.com, 22 Juni 2020, ada 68.753 kasus DBD di Indonesia secara kumulatif hingga Juni 2020. Jika dibanding dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, jumlah total kasus DBD hingga Juni 2019 sebanyak 105.222. Jumlah tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan kasus DBD yang telah ditemukan hingga Juni 2020. Angka kematian pada tahun 2019, hingga bulan Juni tercatat 727 kasus kematian. Sementara pada tahun 2020 pada periode yang sama, yaitu hingga bulan Juni, tercatat 446 kasus kematian akibat DBD.

Demam berdarah dengue (DBD) atau sering pula disebut dengan demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus dengue yang dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aigypty dan nyamuk Aedes albopictus. Nyamuk Aedes aigypty merupakan penyebab demam berdarah yang menyebarkan virus DEN-1,DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 sebagai vektor utama. Nyamuk Aedes aigypty yang paling aktif adalah nyamuk betina, karena nyamuk betina membutuhkan darah untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur sebagai cara perkembangbiakannya. Lain halnya dengan nyamuk jantan.

Secara fisik nyamuk Aedes aigypty memilik tubuh yang kecil dan corak warna hitam dengan belang putihdi seluruh tubuhnya dan spesifiknya adalah kepala kecapi berbentuk dengan dua garis lengkung dan dua garus lurus putih. Nyamuk Aedes aigypty memiliki kemampuan terbang hingga mencapai 100 meter. Biasanya menularkan penyakit pada pagi dan sore hari, yaitu dua jam setelah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam. Atau sering pula kita baca bahwa Aedes aegypti aktif menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pada pukul 08.00 – 12.00 dan 15.00 – 17.00.

Nyamuk Aedes aigypty ini lebih sering disebut penyebab demam berdarah karena ia lebih suka berada di dalam rumah. Suka berkembang biak di tempat-tempat penampungan air buatan seperti bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, tempayang dan tempat-tempat lain yang serupa.

Sementara itu nyamuk Aedes albopictus merupakan penyebab penyakit demam berdarah karena menyebarkan virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 sebagai vektor sekunder. Secara fisik nyamuk ini dapat diamati dengan corak warna hitam dengan belang putih di seluruh tubuh dan lebih spesifiknya adalah kepala kecapi berbentuk dengan satu garis lengkung dan saru garis lurus putih.

Namuk Aedes albopictus memilik kemampuan terbang 400 meter sampai 600 meter dengan habitat yang berada di luar rungan ataupun hutan berpohon rimbun. Biasanya nyamuk ini menyerang pada siang hari. Perkembangbiakannya sering terjadi pada tempat penampungan air alami di luar rumah (ketiak daun, lubang pohon, dan potongan bambu). Biasanya menyerang orang yang berada di daerah pedesaan maupun dengan lingkungan perkebunan.

Dari kedua tersebut, ia memiliki kesamaan dalam gerak jentik di dalam air. Namun, dapat dibedakan dengan gerak jentik nyamuk yang bukan penyebab deman berdarah. Biasanya keduanya bergerak aktif dari bawah ke atas permukaan air secara berulang-ulang.

Gejala klinis yang sering timbul bila terkena penyakit DBD antara lain: demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diathesis hemoragik. Pada demam berdarah dengue terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.

Menurut WHO kriteria demam berdarah dengue ialah demam yang berlangsung 2-7 hari, terdapat manifestasi perdarahan, trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/mm3), dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Biasanya demam mulai mereda pada 3-7 hari setelah onset gejala. Pada pasien juga bisa didapatkan tanda peringatan, yaitu sakit perut, muntah terus-menerus, perubahan suhu (demam hipotermia), perdarahan, atau perubahan status mental (mudah marah, bingung).

Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi berbagai faktor antara lain imunitas penjamu, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus dengue, keganasan (virulensi) virus dengue dan kondisi geografis setempat. Demam berdarah dengue sering terjadi pada anak usia kurang dari 15 tahun. Sekitar 50% penderita DBD berusia 10-15 tahun yang merupakan golongan usia yang tersering menderita DBD dibandingkan dengan bayi dan orang dewasa.

Agar penduduk negeri ini tidak idak menjadi korban dua virus dalam waktu yang bersamaan,. Sudah menjadi korban covid-19, kemudian harus terserang virus dengue. Karena itu, kita perlu selalu mengenali gejalanya penyakit DBD seperti yang disebutkan di atas. Dan tentu yang terpening adalah bagaimana mencegahnya.

Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Cara ini bisa kita lakukan dengan mengenakan pakaian yang menutupi lengan dan kaki. Saat tidur, sebaiknya kita menggunakan kelambu dan pengusir nyamuk atau lotion anti nyamuk.

Cara lain adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M. atau sering pula kita dengar dengan istilah 3M Plus. Yang dimaksud 3M adalah: 1) Menguras, merupakan kegiatan membersihkan/menguras tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya. Dinding bak maupun penampungan air juga harus digosok untuk membersihkan dan membuang telur nyamuk yang menempel erat pada dinding tersebut. 2) Menutup, merupakan kegiatan menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. Menutup dapat pula diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak membuat lingkungan semakin kotor yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. 3) Memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), disarankan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Sedangkan yang Plus-nya adalah upaya pencegahan tambahan antara lain: memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, menggunakan penerangan di rumah/kamar, kerja bakti membersihkan lingkungan, periksa tempat-tempat penampungan air, meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, memberikan larvasida pada penampungan air yang susah dikuras, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar, menanam tanaman pengusir nyamuk. Tentu masih banyak cara yang sering dipraktikan masyarakat lokal guna dalam mencegah penularan penyakit DBD ini.

Prof. Hasanuddin Ishak pada awal paparannya mengatakan kepadatan nyamuk aedes sp di suatu wilayah memiliki pengaruh kritis terhadap tingginya penyakit DBD. Karena itu pengendalian kepadatan nyamuk (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) merupakan cara mengeleminasi penyakit tular nyamuk, seperti DBD ini. Memang program pengendalian nyamuk seperti 3M dan abatesasi (Temephos 1% sebagai larvasid) dan fogging (penyemprotan dengan insektisida Malathion 5%) sudah dilakukan secara rutin, namun dalam penelitiannya, sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Jumlah penderita berfluktuasi cenderung meningkat dan penyebaran daerah endemiknya semakin meluas.

Dalam penelitiannya, lanjut Hasanuddin Ishak, tercatat catat 83% penurunan insiden kasus demam berdarah di Kota Makassar, selama periode 8 tahun terkait dengan intervensi fogging pra-penularan berbasis data surveilans kasus DBD dan nyamuk secara terintegrasi. Aplikasi fogging tunggal tidak menghasilkan perlindungan tahan lama dan kemungkinan rendah mempengaruhi populasi nyamuk aedes dan penyakitnya. Karena itu, dampak maksimum untuk mengurangi populasi nyamuk dapat dicapai ketika intervensi pengendalian dilaksanakan dengan cakupan tinggi dan diintegrasikan dengan strategi pengendalian lainnya.

Hasanuddin Ishak juga mengatakan perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengendalian nyamuk. Seluruh komponen masyarakat sekolah mengaktifkan program kesehatan sekolah dengan siswa pemeriksa jentik sebagai upaya mengurangi siklus penularan DBD. Kegiatan pemantauan jentik meningkatkan kesadaran dini akan keberadaan nyamuk DBD di lingkungan sekolah.

Terdapat pengaruh penyampaian informasi dengan pendekatan modul modifikasi terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan tindakan pengendalian nyamuk vektor DBD. Efektifitas peningkatan pengetahuan, sikap, dan tindakan tertinggi pada kelompok yang menerima pelatihan dan modul modifikasi dibandingkan dengan pelatihan dengan modul konsvensional.

Menutup paparannya, nara sumber yang merupakan peneliti nyamuk dan virus ini merekomendasikan tiga strategi pengendalian nyamuk yang terbukti efektif mengurangi kepadatan nyamuk dan berkontribusi terhadap eliminasi penyakit DBD; yaitu:
1. Manajemen pengendalian nyamuk terpadu dengan fogging sebelum musim hujan (penularan) berbasis surveilans pemantauan kepadatan jentik
2. Strategi pengendalian nyamuk mengaktifkan program kesehatan sekolah dengan siswa pemeriksa jentik di Sekolah Dasar
3. Modifikasi Ovitrap dengan zat atraktan untuk mengurangi kepadatan telur dan jentik nyamuk Aedes sp

Sekalipun menurut catatan kementerian kesehatan di atas terjadi penurunan kasus DBD dan kasus kematian akibat DBD hingga bulan Juni 2020, dibanding pada periode yang sama tahun 2019, namun tentu tidak ada yang menginginkan kejadian tersebut. Tidak ada di antara kita yang ingin anggota keluarganya sakit atau meninggal karena sakit DBD. Karena itu, prinsip “lebih baik mencegah dari pada pengobati” harus harus menjadi tujuan dan semangat bersama kita.

Melihat masih terdapatnya kasus setiap tahunnya maka ini pertanda bahwa virus dengue yang merupakan penyebab penyakit demam berdarah masih tetap eksis. Nyamuknya masih aktif menjalankan tugas untuk menyebarkan virus mematikan ini melalui gigitannya. Dan juga masih aktif berkembang biak setiap ada musim dan kesempatan. Artinya, nyamuk Aedes aigypty dan nyamuk Aedes albopictus sebagai vektor belum “pensiun”. Wallahu a’lam bishawab.

(Penulis adalah Inisiator Webinar dan satu satu Pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)