Ibu dan Gizi Keluarga

dr. Zaenal Abidin, SH, MH.

Oleh: Zaenal Abidin

Waktu saya masih kecil, sering menyaksikan perlakukan amat istimewa seorang ibu kepada anaknya. Bahkan saya sendiri sering mengalaminya. Terkadang seorang ibu harus mengeluarkan makanan yang ada di rongga mulutnya, dicuci lalu diserahkan kepada anaknya karena anaknya menangis, merengek memintanya.

Fenomena seorang ibu mengeluarkan makanan, zat gizi dari mulut dan kemudian diberikan kepada anaknya tentu benar-benar suatu hal yang istimewa. Hal juga berarti bahwa ibu sekligus mengenalkan gizi kepada anaknya disamping mengajarkan arti kasih sayang.

Ibu telah mengenalkan gizi kepada anaknya sejak anak masih didalam kandungan sampai lahir, bahkan setelah remaja dan dewasa. Ibu pulalah yang merencanakan serta mengatur menu gizi kepada seluruh anggota keluarga. Karena itu, sangat wajar bila ada sebagian orang mengatakan ibu adalah tokoh dan pahlawan gizi dalam keluarga.

Di Tanah Bugis, peristiwa seorang ibu mengeluarkan makanan dari rongga mulut lalu diberikan kepada anaknya, biasanya disertai dengan ucapan: “messe bebbuaku”. Artinya, ada perasaan perih di perutnya atau tidak tega, kasihan atau iba seorang ibu melihat anaknya. Ucapan ibu tersebut mungkin merupakan bagian dari konsep budaya “pesse” (dialeg Bugis) atau “pacce” (dialeg Makassar).

Namun, bagaimana bila perasaan kasih, iba, serta perih di perut itu berhubungan dengan rahim (kandungan, uterus) yang ada di dalam perut ibu? Bukankah rahim yang terdapat di dalam perut ibu merupakan lokus kasih dari Allah Yang Maha Pengasih? Ia merupakan tempat di mana bayi dan kita semua berasal. Tempat yang kokoh penuh kasih sayang, yang di dalamnya janin merasa sangat aman dan nyaman.

Karena itu, bila perasaan kasih, iba, perih di perut benar berhubungan dengan anugerah Allah yang bernama rahim, maka fenomena ibu-ibu di Tanah Bugis mungkin saja bermakna universal. Artinya karakter tersebut dipraktikkan oleh kaum ibu di seluruh jagat raya ini. Bahkan dapat pula bermakna teologis.

Secara etimologi, rahim ini berasal dari akar kata “rahimah” (bahasa Arab), yang memiliki makna mengasihi, memahami, menyayangi, mencintai, menghargai, dan menghormati. Bahkan ahli bahasa Arab mengatakan bahwa bentuk jamak dari rahim adalah “arham”, bermakna hubungan kerabat satu ibu. Dan bila rahim sebagai kata kerja dengan i pendek (rahim) bermakna menyayangi. Sedang bila i panjang (rahiim) bermakna penyayang. Wallahu a’lam bishawab.

Sachiko Murata dalam buku The Tao of Islam, menyebutkan “kedudukan ibu yang dimuliakan dalam tradisi Islam tercermin dalam tekanan yang diberikan pada pemenuhan hak-hak dari pertalian darah rahim.”

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

Jakarta, 22 Desember 2001