Kayla dan Lomba Kosakata Bahasa Arab

Kayla Saat Memenerima Piala Juara Lomba Kosakata Bahasa Arab

Oleh: Zaenal Abidin

Sejak masuk SD Daar El Salam, selain mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia, Kayla juga belajar bahasa Inggris, Sunda dan bahasa Arab. Setiap pekan keempat pelajaran bahasa ini selalu disajikan.

Saat kelas 1, Kayla telah belajar menghitung dengan bahasa Arab dari angka satu sampai sepuluh, juga beberapa warna, buah-buahan, peralatan sekolah, dan lainnya. Guru kelasnya menyuruh menghafalnya karena selalu ada penilaian harian (PH) dan penilaian praktik, sebagaimana pelajaran lainnya.

Setelah di kelas 2 kosa katanya makin bertambah. Kayla sudah diperkenalkan tentang profesi atau pekerjaan, peralatan sekolah dan perlengkapan di kelas, pakaian seragam dan warnanya, dan juga beberapa hal mendasar lainnya. Seperti waktu masih di kelas 1, ada juga penilaian harian (PH) dan penilaian praktiknya.

Kayla ikut lomba kosakata bahasa Arab

Untuk lomba, memang Kayla sudah pernah ikut lomba saat masih kelas 1. Kayla pernah juara III membaca puisi perorangan dan juga pernah juara II menghafal Qur’an berantai.bDi kelas II, ketika pelaksanan ujian akhir semester (UAS) ganjil usai  kembali sekolah Daar El Salam menyelenggarakan Lomba Student Creativity. Persisnya pertengahan tanggal15 Desember 2021. Lomba yang diselenggarakan, yakni: lomba tahfidz, qiroah, puisi, kreasi barang bekas, arange later, calistung, dan mufrodat.

Sebagai orang tua kami kurang paham apa pertimbangan dalam membagi murid untuk mengikuti setiap jenis lomba tersebut. Kami hanya ikut saja apa yang telah diatur oleh guru kelas 2 Amr bin Ash. Jelasnya, saat anak kami Kayla ditempatkan pada lomba mufrodat atau kosa kata. Setelah pembagian itu, Kayla melapokan kepada kami, bahwa Kayla disuruh ikut lomba bahasa Arab sama ibu dan pak guru.

Sebenarnya kami setengah percaya dengan informasi yang disampaikan Kayla. Karena itu, kami buka grup WhatsApp kelas 2 Amr bin Ash. Rupanya informasi yang disampaikan Kayla benar adanya. Bahkan untuk lomba mufrodat ini, dari empat murid yang ditunjuk mewakili kelas 2 Amr bin Ash, nama Kayla tercantum paling atas. Kami panggil Kayla dan katakan, “ternyata betul nak, Kayla diminta mengikuti lomba mufrodat.” Kayla bisa? “in syaa Allah,” jawab Kayla.

Masalah baru kemudian muncul, karena kami sudah terlanjur jadual menginap di luar dan tempatnya menginapnya sudah dibayar. Karena itu mengantisipasinya kami haruskan Kayla membawa buku dan berkomitmen untuk belajar. Alhamdulillah, Kayla setuju. Persolan berikut adal pada hari H mestinya kami masih menginap di tempat yang telah kami bayar. Memang ada dua alternatif. Pertama, kami pulang pada malam bomba, yang berarti kami tidur di rumah pada malamnya. Kedua, kami pulang subuh hari “H” dan langsung mengantar Kayla ke sekolah untuk lomba. Dengan kemungkinan risiko Kayla kecampaian atau lelah dalam perjalanan.

Akhirnya kami pilih pulang lebih awal dan menginap di rumah pada malam lomba. Jadi habis shalat subuh, Kayla sudah mandi, sarapan, dan seterusnya. Dan, jam 07.00 WIB kami sudah antar Kayla ke sekolah untuk lomba. Kami pasrah saja, yang penting Kayla ikut berpartisipasi dan menambah pengalaman berlomba. Sekaligus bisa melatih keberanian dan kejujuran dalam berkompetisi.

Jam 10.45 kami sudah siap menjemputnya, menyesuaiakan waktu  selesai sesi lomba jam 11.00. Bundanya tidak ikut, jadi saya hanya bersama driver kami Om Rahmat. Perjalanan dari rumah ke sekolah menempu waktu sekitar 12 – 15 menit. Sesampai di Sekolah saya turun dari mobil dan berjalan ke tempat tunggu murid sambil melihat dari kejauhan, apakah Kayla sudah selesai lombanya.

Rupanya memang sudah selesai. Kayla sedang bermain perosotan bersama temannya. Karena banyaknya anak memakai seragam yang sama dan pakai masker jadi tidak mudah mengenali muka Kayla dari jauh. Biasanya kalau saya menjemputnya, hanya menandai dari sepatunya. Untungnya sepatu murid Daar El Salam tidak seragam betul.

Tidak lama kemudian anak yang saya tandai sepatunya berbalik memandang ke arah saya lalu angkat tangan melambai. Anak tersebut lari ke arah saya dan berteriak, ‘ayaaah.” Menjadi yakinlah saya bahwa anak tersebut memang Kayla. Sesampai di depan saya, Kayla langsung memeluk. Lalu berkata, “sebentar ya ayah, Kayla mau ambil tas dulu di kelas.” Belum sempat menanyakan, ‘bagaimana lombanya, sulit apa mudah, ia sudah lari.

Saya menjadi terperangah setengah tak percaya karena Kayla keluar dari kelas dengan tas ransel dan juga membawa sesuatu seperti piala. Pas di depan saya, Kayla bilang, ‘“ayah ini piala Kayla”. Langsung saya tanya, “itu piala apaan?” Kayla jawab, “Kayla juara satu.” Itu benar piala Kayla atau punya teman Kayla?” “Piala Kaylalah,” kata Kayla lagi. Saya kembali ingat sifat Kayla, selalu jujur dan tidak suka ditanya berulang-kali. Dia juga bisa kesal dan cemberut, jika merasa tidak dipercaya.

Di dalam mobil menuju ke rumah, Kayla bilang “ayah bawa uang gak?” “Mau beli apa nak,” kata saya. “Kayla mau beli pensil mekanik di Intermedia.” Saya jawab boleh. Mampirlah kami di Intermedia membeli pensil sesuai keinginan Kayla dan barang yang lain yang disebutkan sebelumnya. Setelah itu kami pulang ke rumah. Dalam perjalanan, saya tanya lagi, “bagaimana sih ceritanya sampai Kayla bisa juara satu? Kayla bilang, “sebenarnya lomba ini ada lima tahapan ayah. Tapi pada tahapan keempat tinggal Kayla yang jawabannya benar semua. Jadi tidak dilanjutkan lagi ke tahapan lima. Kayla langsung dinyatakan menang. Juara satu.” Saya peluk hangat Kayla dan ikut merasa senang. “Bisa juga kamu juara, nak.”

Sesampai di rumah, Kayla berteriak panggil bundanya. Bundanya keluar. Kayla memamerkan pialanya. Juga berjalan ke kamar eyangnya menunjukkan kalau ia dapat piala. Jadilah kami seisi rumah terharu, setengah tidak percaya.

Juara dalam lomba tentu itu bukan tujuan utama bagi Kayla. Tujuan kami adalah bagaimana Kayla mengasah kecerdasan serta melatih keberanian dan kejujurannya. Karena itu menutup tulisan ini, saya menuliskan pesan singkat dari leluhur kami di Tanah Bugis, semoga kelak Kayla dapat memahaminya.

Ajanasalaiko acca sibawa lempu. Naia riasenge acca, degaga masussa napugaudeto ada masussa nabali ada madeceng melemmae; mateppei ripadanna tau. Naia riasenge lempumekessingi gauna, patujui nawanawanna, medeceng ampena, namatauri Dewatae.Billahi Taufiq Walhidayah.

Jatiasih, 15 Februari 2022