Kayla dan Shalat Lima Waktu

Kayla Sedang Shalat

Oleh: Zaenal Abidin

Sejak kecil, memang sering kami mengajak Kayla ke masjid, sekalipun Ia hanya duduk atau bahkan jalan saat kami sedang shalat. Bahkan usia Kayla saat belum cukup satu tahun, jika kami ke masjid kami selalu kami mengajak Kayla. Ketika kami hendak i’tikaf pada bulan Ramdhan, kami membawa alas dan bantal agar Kayla bisa tidur nyaman dan kami bisa khusyu shalat dan mengaji.

Di Taman Kanak-Kanak (TK) Azzahra, Kayla selalu praktik shalat Dhuha, tentu dibawah bimbingan gurunya. Agar murid tidak lupa membawa perlengkapan shalat, maka setiap murid diminta membawa satu set mukenah dan sajadah. Juga telah disipkan loker untuk setiap murid. Dalam beberapa hari kemudian, murid disuruh membawa pulang peralatan shalatnya untuk dicuci lalu bawa kembali.

Ketika tiba Ramadhan 1441 H., kami seisi rumah menyambutnya dengan rasa gembira dan mengharap keberkahan dari Allah SWT. Sekalipun dengan tetap waspada karena bersamaan  awal dari pandemi Covid-19, maka sebagian besar aktivitas dilakukan di rumah. Kayla boleh keluar rumah, bermain dengan teman-temannya namun semua dengan protokol kesehatan yang ketat. Wajib pakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan.

Lokasi TK Azzahra yang tidak jauh dari rumah, memudahkan kami untuk mengontrol aktivitas Kayla. Dari aktivias sekolah hingga aktivitas bermainnya. Di rumah, Kayla juga tekun menyelesaikan tugas sekolahnya. Biasanya setelah tugasnya selesai, kami antar ke sekolahnya lalu mengambilkan tugas barunya untuk dikerjakan dirumah. Kegiatan ini menjadi rutinitas kami selama Kayla belajar dari rumah karena pandemi Covid 19.

Shalat 5 Waktu Kayla

Sejak Ramadhan 1441 H., yang merupakan awal pandemi Covid-19 di Indonesia, Kayla sudah rutin shalat 5 waktu. Walau ketika itu hafalan bacaan shalatnya masih terbatas. Sebagai orang tua, kami tidak ingin memaksanya, sebab memang usianya baru 6 tahun. Bagi kami ketika itu, setidaknya Kayla sudah tahu tata cara wudhu, jumlah rakaat shalat 5 waktu, tahu gerakan shalat, dan  hafal surat Al-Fatihah. Untuk sementara itu sudah cukup.

Karena kami banyak waktu di rumah, kerja dirumah saja, maka sebagian besar shalat 5 waktu kami lakukan bersama Kayla secara berjamaah. Shalat Tarawih pun dilakukan secara berjamaah. bersama ayah, bunda, Kayla dan eyang. Kadang kami berlima bila Om Dhiemas yang berkerja di INews TV sudah tiba di rumah sebelum waktu Isya. Kebiasaan ini dilakukan sampai ketemu Ramadhan berikutnya, 1442 H., saat pandemi Covid -19 lagi ganas-ganasnya, Covid varian Delta namanya.

Di kelas I SD Daar El Salam, Kayla sudah mendapatkan Pendidikan Agama Islam. Salah satu mata ajarannya adalah wudhu. Wudhu sebagai syarat syahnya shalat 5 waktu. Pada mata ajaran tersebut, Kayla belajar tata cara berwudu, rukun dan sunnah wudhu, doa setelah wudhu, serta hal-hal yang membatalkannya. Setelah pelajaran dianggap selesai biasanya guru Kayla memberikan penilaian harian (PH) dan penilain praktik. Untuk wudhu ini tampaknya Kayla tidak mengalami kesulitan karena selama ini ia telah mempraktikkannya setiap mau shalat dan mengaji.

Saat naik kelas II SD, Covid-19 sedikit mulai reda, PPKM sudah turun ke level 1. Jadi sekolah  Kayla sudah bisa melakukan pertemuan tatap muka 50%, artinya 50% aktivitas murid di sekolah dan 50% tetap belajar di rumah secara online. Pendidikan Agama Islam di kelas II makin meningkat. Kayla sudah belajar secara khusus dan mendalam tentang shalat. Selain harus memahami gerakan shalat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Mulai dari takbiratul ihram sampai salam, Bahkan Kayla pun sudah diwajibkan menghafal seluruh bacaan shalat.

Seperti halnya pelajar wudhu pada saat duduk di kelas I, pelajaran shalat pun ada ujian atau penilaian harian (PH) dan penilaian praktik. Karena itu, Kayla dituntut untuk belajar bersungguh-sungguh. Kalau soal gerakan shalat dan bacaan surat Al-Fatihah tentu tidak ada masalah baginya, sebab sejak di TK, Kayla sudah terbiasa shalat. Bahkan sejak Ramadhan 1441 H., Kayla tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Namun pada bacaan shalatnya, Kayla mengalami kesulitan untuk menghafal bacaan shalat.

Kayla tersendat pada bacaan tasyahud akhir, persis pada bacaan, Allahumma shalli ala Muhammad wa ala aali Muhammad, sampai akhir. Kayla sangat susah untuk menghafal secara utuh bacaan tasyahud akhir. Tapi Kayla tidak mau menyerah begitu saja. Sekalipun air mata menetes membasahi pipinya, ia terus berusaha dan berusaha, sampai akhirnya bacaan tasyahud akhir dihafalnya.

Seperti pepatah yang dipegang teguh oleh masyarakat Bugis “Resopa temmangingngi, malomo naletei pammase dewata. Hanya dengan kerja keras dan ketekunan maka akan mudah mendapatkan ridho dari Tuhan. Itulah Kayla, ia tak mudah menyerah bila menginginkan sesuatu.

Sejak Kayla mampu menghafal seluruh bacaan shalat, maka mulai saat itu pula Kayla telah melaksanakan shalat dengan baik. Berkaitan dengan shalat 5 waktu ini, kembali lagi Kayla dapat diandalkan. Sesibuk apapun ia bermain dengan temannya, bila ia belum shalat 5 waktu, maka ia akan buru-buru balik ke rumah untuk shalat. Bila sedang bermain bersama temannya di rumah, kemudian waktu shalat tiba maka Kayla segera menyiapkan mukena dan sajadah untuk teman-temannya, lalu mengajak temannya shalat berjamaah. Kayla sendiri yang menjadi imamnya. Semoga sabar dan shalatmu sebagai penolongmu nak Kayla. Billahit Taufiq Walhidayah.

 Selamat menyambut datangnya Ramadhan 1443 H.

Jatiasih, 13 Februari 2022.