Puasa: Kontinuitas Agama-Agama dan Pangkal Takwa

dr. Zaenal Abidin, M.H. (foto google)

Oleh: Zaenal Abidin

Puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu sebelum Islam. Artinya sebelum umat Islam diwajibkan berpuasa umat terdahulu sudah menjalankannya meski dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang berpuasa dengan menghindari makanan dan minuman tertentu saja. Ada yang berpuasa pada sebagian siang atau seluruh siang. Ada pula yang hanya  berpuasa malam hari saja. Bahkan ada yang berpuasa dengan cara menahan diri untuk berbicara, seperti yang pernah dilakukan oleh Maryam ibunda Nabi Isa Alaihissalam.

Puasa adalah mata rantai yang menunjukkan kontinuitas agama-agama yang diturunkan  Allah SWT kepada umat manusia. Karena itu puasa dalam Islam merupakan bukti bahwa Islam adalah agama lanjutan yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Penyempurna dari seluruh rangkaian agama Allah yang telah diturunkan kepada umat-umat sebelum Islam.

Menurut Almarhum Cak Nur (Prof. Nurcholish Madjid), pokok amalan puasa ialah pengingkaran jasmani dan ruhani secara sukarela dari sebagian kebutuhannya, khususnya kebutuhan yang menyenangkan. Pengingkaran jasmaniah dari kebutuhannya yakni makan dan minum, dapat beraneka ragam. Sedangkan dari segi ruhani, karena beratnya, puasa merupakan latihan keruhanian. Karena itu, puasa sering disebut ibadah utama yang membekas pada jiwa dan raga karena berat.

Dalam hadits Qudsi Allah berfirman, “Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberi pahala.” Jadi orang yang berpuasa tak perlu khawatir jika puasanya tidak diketahui orang lain atau orang lain bahkan menduganya tidak berpuasa, sebab Allah-lah yang akan menanggung pahalanya.

Puasa merupakan ibadah yang sangat pribadi atau personal. Ia merupakan rahasia antara seorang manusia yang berpuasa dengan Tuhannya. Dalam kerahasiaan itulah terletak makna keikhlasan atau ketulusan. Lebih lanjut, puasa adalah peragaan akan kesadaran Ketuhanan yang tidak ragu sama sekali akan kehadiran Allah dalam hidupnya. Orang berpuasa bersedia menahan lapar, dahaga, serta kebutuhan biologis lainnya padahal ia mampu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Dari sini pula dapat ditarik kesimpulan bahwa puasa adalah yang pertama dan yang utama dalam pendidikan disiplin dan tanggung jawab pribadi. Dan ini adalah pangkal dari takwa.

Semua ibadah mengandung dua hikmah, yaitu peneguhan iman dan amal saleh. Dari dua segi ini dikenal dengan istilah lain, “hablun minallah” (tali hubungan dengan Allah) dan “hablun minannas” (tali hubungan dengan sesama manusia), serta takwa dan akhlak. Demikian halnya dengan puasa, di dalamnya juga terkandung hikmah iman dan amal saleh. Wallahu a’lam bishawab. Billahit Taufiq Walhidayah.

Jati Asih, 29 Maret 2022